Senin, 12 Mei 2014

Butet Goes to America

Dipersembahkan Untuk
Teman-teman SUSI 2013  
dan Para PENGEJAR MIMPI

“Sesuatu yang kuharapkan setelah melakukan perjalanan jauh adalah terjadinya sebuah perubahan yang dimulai pada diriku”
Washington DC, February 14, 2013




PREFACE

Lancaster, Pennsylvania

Aku Hetty Sarinah Samosir. Mungkin kalau dilihat dari perpaduan nama, kalian mengira aku keturunan Jawa dari Sarinah dan Batak dari Samosir. Unfortunately, Aku batak tulen.  Paman pernah bilang bahwa kakek  buyut-buyut kami berasal dari Filipina. Makanya keluarga kami suka bernyayi dan memiliki suara merdu. Tapi, mungkin itu sebuah kebohongan belaka karena faktanya mamaku memiliki suara yang sangat horor. Sebenarnya aku agak sedikit kecewa karena orang tuaku memberikan nama tengah Sarinah yang kerap kali dijadikan ejekan oleh teman-teman, guru-guru bahkan dosenku di Lampung. Nama ayah adalah Olan, Ibu Veronica dan ketiga adikku Prisca, Vernando dan Sergio. Karena iri, waktu aku masih labil dan alay, sempat mengganti nama tengahku di facebook menjadi Hetty Castro Samosir atau Hetty Cullen Samosir. Supaya terlihat lebih keren. Salah satu dosen di Program Studi Fisika, Ibu Kartini sempat bilang “Hetty ternyata nama tengahmu Sarinah ya? Kenapa kamu sembunyikan selama ini, namamu memiliki filosopi yang bagus”.  Akhirnya aku menemukan titik terang pada nama tengahku, baru kali ini aku mendengar nama “Sarinah memiliki filosopi yang baik”. Tapi, sesungguhnya sampai detik ini aku belum mengetahui filosopi apa di balik nama tengahku. Gubrak! Hanya saja mamaku pernah bilang bahwa Sarinah memiliki arti “tempat yang tinggi”. Semoga saja nama Sarinah ini bisa membawaku ke tempat yang tinggi, bukan membawaku ke puncak gunung Rajabasa di Kalianda, Lampung Selatan. 

Apa yang terpikirkan jika kita ingin belajar ke negara lain atau Amerika dengan biaya gratis atau murah? Mungkin jawaban pertama dari sebagian besar orang sejagat raya adalah beasiswa. Namun, takdir bekata bahwa Hetty yang memiliki nama tengah Sarinah dan hampir expire ini harus mengalami kegagalan yang bertubi-tubi dahulu sebelum bisa mendapatkan kesempatan tersebut. Berikut adalah daftar beasiswa yang tidak memberikanku kesempatan untuk meraskan bahagia di negeri orang: Global Ugrad dari AMINEF, IELSP dari IIEF, PPAN dari Kemenpora, Mover Action II dari Erasmus Mundus. Semuanya itu sempat membuat Ms. Sarinah merasa hampa dan putus asa. Apalagi saat mengetahui aku gagal mendapatkan beasiswa di kala putus dengan pacar yang di Argentina 

Pada akhirnya, munculah secercah harapan ketika aku sedang galau di kamar. Sekitar pukul sembilan pagi aku mendapatkan telepon, “Hetty, ini mb Shita dari US Embassy Jakarta. Kamu terpilih untuk mengikuti program SUSI dari tanggal 13 Januari sampai 17 Januari 2013 di Temple University, Philadelphia, apa kamu bersedia mengikuti program ini secara full?”. Sebenarnya dalam hati ini berkata “bersedia kok mba, selama-lamanya juga gak apa-apa. Lho?" Hahahaha. Selama dua minggu aku mempersiapkan winter stuff seperti sarung tangan, topi wol, aneka syal, sepatu boots, jaket tebal, kaos tangan panjang yang berbahan tebal. Rasanya gak sabar untuk mengenakan pakaian winter.


January 10, 2013
Makan Malam bersama Dubes US, Mr. Scott Marciel
 


Malam ini aku & teman-teman peserta SUSI diundang untuk makan malam bersama Duta Besar Amerika, Scott Marciel di kediaman beliau sebelum kami meninggalkan Indonesia esoknya. Aku merasa bak ‘orang penting saja’ makan malam bersama Dubes Amerika beserta staffnya.  Kami dijemput dari hotel dengan menggunakan kendaraan Keduataan berplat “CC”. Sebulan sebelumnya ketika kami sedang membuat visa di kedutaan US, aku sempet ngiler dengan orang-orang yang lalu-lalang dengan kendaraan berplat kedubes “CD”.  Setidaknya sekarang rasa ngidamku sudah terobati  dengan plat CC ini. Oleh sebab itu, harus dandan yang cantik, jangan sampai lupa pakai anting andalan bulu cendrawasih.





Saat makan malam, kami bertemu dengan banyak staff-staff US Embassy. Ketika aku sedang asik berbincang dengan ka Pandu (IGede Pandu dari Unv. Nasional, SUSI RPA 2012), ada salah satu staff yang aku lupa namanya menghampiri kami dan memberiku nasehat yang kena banget, khususnya untuk Ms. Sarinah, yaitu "Listen to me, study hard is important, but you need to have fun. Don't force yourself too hard spend too much time to library, enjoy your time in US, hang out! Make many new friends so you don't get disappointed with the things you don't do." Yah memang selama SMP dan SMA, aku selalu berkutat dengan buku-buku dan belajar keras. Sampai-sampai dulu ketika aku sedang belajar, aku selalu berusaha menutupinya dari teman-teman . "Dan inilah saatnya aku bersenang-senang dan membuka mata selebar-lebarnya melihat dunia"





January 11, 2013
Penerbangan dari Jakarta menuju Singapore 

Anak-anak SUSI 2013 memang super deh, super rajin! Jadwal penerbangan kami pukul 20.30 WIB, tapi dari jam 14.00 WIB belasan dari kami sudah stand by ke bandara Soekarno Hatta. Lamanya menunggu! Tujuh jam! Ini terjadi atas saran mas staff dari Kedubes Amerika. Mas bilang “sekarang lagi ada banjir nih di Banten, jadi lebih cepat datang ke bandara, itu lebih baik”.Tapi, mas ini memang top deh dan baik banget, dia juga banyak memberikan nasehat buat kami supaya salah satunya, "nanti di Amerika, kalian bakal lihat banyak orang Amerika jalannya kaya kingkong karena badannya gede-gede banget." Langsung saja kami mendengarnya tertawa mulas. Aku jadi pengen banget memperhatikan bagaimana cara berjalan orang-orang Amerika.

Tiba di Changi airport, Singapore.  Tatanan kota Singapore  yang rapih terlihat dari kaca jendela pesawat sebelum mendarat.  Suasana luar negeri sudah mulai terasa. Di semua sudut banyak orang-orang berkulit putih. Di sini kita harus budayakan membaca biar gak nyasar. Buat aku sendiri sulit banget memahami orang Singapore berbicara English, “You turn left, straight, straight aaaa aaa aaa aaa” kata salah satu staff bandara ketika kita bertanya di mana letak “Departure Transit Lounge” untuk beristirahat sejanak menunggu penerbangan selanjutnya.  Kagak nahan banget “aaa”.  Hahahahaha. Tapi, Tampaknya petugas ini bisa melihat kalau kita gak mengerti apa yang dia bicarakan sehingga dia berbicara menggunakan bahasa Melayu. “Kalian naik kereta bandara "skytrain" ke gate, mau ke Amerika harus bisa bahasa Inggris aaa”. “What The Hell!!! Lo aja yang agak teler kebanyakan minum arak Singapore!

Dari Changi, kami melanjutkan penerbangan selanjutnya ke Toyko selama tujuh jam. Sepanjang penerbangan hanya tidur aja karena aku sudah lelah sekali. Gak sabar deh rasanya untuk tiba di Jepang & merasakan dunia Japan even just in Narita airport. 

January 12, 2013 
Penerbangan dari Jepang Menuju Atlanta, Amerika

 

Tiba di Narita Airport aku dan kawan-kawan memanfaatkan waktu transit untuk berkeliling bandara.  Penerbangan selanjutnya menuju ke Atlanta, US. It takes very long hours, 19 hours and It’s not a big deal for me! Selama penerbangan banyak penumbang Jepang yang hidungnya berdarah, terlinga ku juga. Aku bahkan demam. Sempat ada pikiran bodoh sih "Mama, apa aku akan mati di pesawat ini". hahaha. Selama pesawat kepunyaan Amerika ini take off, telingaku sakit sekali sampai tuli sementara. Hal itu terjadi karena perbedaan tekanan udara dari tempat yang tinggi sekali ke tempat yang rendah. Orang-orang bicara apa pun udah gak kedengaran lagi. Gak ada kisah yang menarik di dalam pesawat. Apalagi, salah satu pramugara di pesawat songong banget. Yang duduk di sebelah kananku pemuda Jepang. Setiap kali pramugara ini ingin memberikan makanan atau minuman, aku selalu terlewatkan. Masa sih badanku yang segede ini gak kelihatan. Tapi, dia sangat ramah terharap wong Jepang di sebelah kananku dan sangat galak terhadapku, padahal aku gak melakukan apa-apa (halah lebay!). Tapi, bisa dibilang, mungkin pramugara ini mengiraku sebagai TKW Indonesia yang mau dikirim ke Amrik. Ini yang tidak patut dicontoh, menilai seseorang hanya dari penampilannya saja. Lagi-lagi karena rasis atau mungkin dia pernah dibuat patah hati oleh wanita yang berwajah mirip denganku. Kulitku memang sangat sangat gelap sebelum berangkat ke Amerika. Karena nazarku sebelumnya adalah "jika nanti aku dapat beasiswa ke Amerika, aku akan sering berenang ke pantai dekat rumah biar kulitku hitam".


Prosesi Menghitamkan Kulit di Lampung :D


January 13, 2013
Tiba di Pennsylvania 

Tiba di Detroit Airport, Atlanta, Georgia, masih gak nyangka kalau aku sudah di Amerika. Aku menuju pemeriksaan di  bagian imigrasi dan kupilih petugas imigrasi yang paling ganteng.  Awalnya sih mau curi pandang, ternyata si doi jutek & galak banget. Jadi il-feel. Waktu aku ditanya sama si doi  “is there any food in your laggage?” dengan polosnya aku jawab “Yes, there are five vegetable noodles in my bag”. Akibatnya, teman-temanku udah langsung ke gate penerbangan berikutnya, tapi diriku masuk pemeriksaan ekstra lagi karena noodles. “Noodles oh noodles!” Untungnya Bapak bule yang di pemeriksaan selanjutnya begitu ramah dan malah ngajak ngobrol. Dia bilang “I think you are a smart girl”. Langsung wajahku yang awalnya muram karena si jutek petugas imigrasi sebelumnya, berubah senyum lebar, selebar-lebarnya. salah satu peraturan di tempat imigrasi dan pemeriksaan, yaitu dilarang untuk taking picture.


WELCOME TO UNCLE SAM. Penuh banget airport ini dengan orang-orang internasional. Langsung kuperhatikan cara berjalan orang Amerika, adakah yang gaya jalannya laksana kingkong seperti yang dikatakan mas staff di kedubes. Perutku lapar, langsung kami mencari fast food terdekat di airport. Wuhuuu, aku banyak menemukan para kingkong. Sempet ketawa ketiwi sendiri sih. hahahaaaa.

Penerbangan kami selanjutnya menuju Philadelphia, Pennsylvania. Yay. Tapi, penerbangan kami delay karena badai salju. Di dalam pesawat menuju Philly, aku mendapatkan teman baru dari Prancis but she speaks English very fluently. Dia duduk di sebelah kiriku, namanya Elen dan dia udah sering banget terbang ke negara-negara lain untuk urusan bisnis di bidang farmasi. That’s super cool, andai suatu hari aku bisa seperti Elen. Terbang ke sana kemari untuk urusan pekerjaan, bukan untuk belajar terus-terusan. Kapan diaplikasiin ilmu yang udah kudapat kalau ke sana ke mari hanya untuk belajar. Ketika take off di Phladelphia rasanya bahagia banget karena aku sampai dengan selamat.  Unfortunately, gate untuk pesawat Delta belum disiapkan. Menunggu selama tiga jam di dalam pesawat sampai gate tersedia. Sambil menunggu, segera kubuka handphone androidku dan e-mail ke orang rumah bahwa aku selamat sampai di Philadelphia.

Salah satu pramugari senior di pesawat Delta ini bisa gokil banget. Dengan percaya diri dan penuh ekspresi dia menyayikan lagu-lagu Amerika tempo doeloe. Tapi, aksinya di dalam pesawat cukup menghibur hati. Semua penumpang bersorak sorai bak nonton konser Madona. Toba di bandara kami dijemput oleh Dr. Juli & Mb Yeni. Segera kami ambil barang-barang kami dan menuju mobil. Setelah ini kami akan menuju Pendle Hill di pinggiran Pennsylvania. Dalam perjalanan, aku melihat pepohonan yang tidak berdaun dan kabut putih. Seperti di dalam buku dongeng yang diberikan ayahku sewaktu aku masih kecil.

Pertama kali yang aku lakukan ketika keluar dari bandara adalah menghirup sedalam-dalamnya udara Amerika sebanyak tiga kali untuk mengecek apakah udara Amerika ada wangi farfumenya sehingga banyak orang ingin ke sini. Haha.
Roomateku adalah Hanna, dia mahir banget bahasa Mandarin. Dia jauh lebih mahir lagi ber-Mandarin kalau sedang mengigau. Aku suka banget sama kamarku. Seperti yang kuharapkan, ada perapian seperti zaman dahulu kala. Dari jendela kamarku aku bisa melihat hutan kayu. Indah banget, seperti di dalam mimpi saja. “Good night Pennsylvania”,  I wish I have good luck for tomorrow.




 
Monday, February 14, 2013 
Pagi Pertama di Amerika dan Film Breaking Down 

Good Morning Pennsylvania, saat ini aku melihat ke luar jendela kamarku sambil menulis diary ini. Kupandangi pepohonan yang tak berdaun terbentang luas diselimuti kabut. Hayalan konyol pun muncul, seandainya ada Edward Cullen dari film Twilight muncul di depan jendela kamarku dan mengajakku berkelana mengelilingi hutan kayu ini. Aku akan merasa seperti Bella dalam film romatika tersebut.

Jadi teringat masa romantis dan  konyol tahun lalu waktu aku masih pacaran sama pria asal Czech. Aku dan Checo pergi ke bioskop di salah satu mall di kotaku. Kami menonton film Breaking Down yang merupakan lanjutan dari film Twilight. 
Checo

Dalam perjalanan turun di eskalator Checo memanggilku “Bella, Bella, my Bella!” dengan aksen British-nya. Oh My God sambil kuhela nafas dalam-dalam. Sontak setelah itu terdengar suara tawa yang ramai. Di belakang kami ada banyak anak-anak baru gede yang baru ke luar dari studio bioskop yang sama.  Dalam hati “Yaiyalah mereka tertawa, muka gue jauh banget sama Bella yang  di film”. Saat itu aku berusaha memahami cara pandang mata lelaki bule-bule yang berbeda dengan mata lelaki Indonesia. Mungkin buat Checo aku eksotis. Hahaha, memuji diri sendiri. Wajahku masih cemberut saat itu, Checo mungkin memahami suasana hatiku yang agak tergoncang akibat Bella-nya sehingga Checo bilang “Honey, In Spanish Bella means beautiful”. Kembali lagi wajahku tersenyum, baru kali ini aku dibilang cantik. Sebelumnya gak pernah!

Kembali ke Pendle Hill, hari ini pertama kalinya aku merasakan sarapan dengan makanan Organic ala America di Kitchen Pendle Hill. I appeciate all the foods that cheffs cooked, but makanan-makanan ini terasa aneh, gigipun tak sanggup mengunyahnya. Rasanya tawar dan gak jelas. Mungkin karena biasa makan-makan Indonesia yang gurih, manis dan pedas, jadi makan makanan Amerika terasa seperti “sayur tanpa garam”. Setelah sarapan, kita diberikan tes untuk mengetahui seberapa dalam pengetahuan kita tentang Amerika.  Kita juga diberikan sebuah book of schedule. Semua jadwal kita ada di situ. But, When I was checking it, WHOA, awesome! Jadwal kita super duper padat. Bagaimana nanti kalau aku mau kencan. Tidak ada waktu untuk curi pandang sama bule-bule Amerika. Maafkan aku mama, pesanmu untuk mencari jodoh dan pariban di Amerika tampaknya tidak dapat direalisasikan.  

Pendle Hill, First Morning [belum mandi nih]
Hari ini sesi yang paling aku sukai adalah “Who Am I? Where I am going”. Segera kutegaskan, bahwa aku adalah Hetty Samosir yang suka sekali make jokes. Kalau pertanyaaan tersebut dilontarkan secara pribadi empat mata kepadaku, maka dengan berbisik-bisik aku akan menjawab “Aku ingin menjadi pelawak dan  masuk sekolah komedi bukan di Pendidikan Fisika”.Tapi waktu presentasi yang aku sampaikan adalah "I am from zero to hero". 

Tuesday January 15, 2013
Para Professor yang menyenangkan dan Berburu Beasiswa S2


Dosen dan Staff, Study of the US Institute Program di Temple University

Hari ini cuaca di Pennsyilvania tidak begitu dingin. Aku bisa keluar tanpa jaket. Hari kedua semakin meggairahkan saja. Para dosen di sini sungguh amat berbeda jika dibandingkan dengan para dosen di kampusku. Mereka mengajar dengan menggunakan motode sederhana, tapi tampak menarik dan informatif. Dr. Juliet Spitzer memiliki wajah seperti Lady Diana. Julia Sheetz Willard memiliki suara yang merdu dan wajah yang awet muda. Dr. Rebecca Mays sangat sederhana dan lembut sekali suaranya. Seandainya mamaku yang di rumah sana selembut Dr. Rebecca pastilah Ms. Sarinah ini tidak semeraut dalam berbicara. Lanjut! Prof. Leonard Swidler (Prof Lend) yang mampu berbicara dalam lima bahasa dan mempunyai banyak gelar. Kata-kata yang kusukai dari Prof. Len adalah “I am just starting to learn” padahal Prof. Len sudah berusia lanjut, gak berhenti untuk belajar. Dan satu lagi, Dr. Racelle Weiman yang paling lucu dan ngaco, gue banget lah. Dan staff kami, yaitu Yenny dari Indonesia dan Fady Is dari Palestina. Dosen-dosenku ini sungguh memberi inspirasi. Aku kutiru keteladanan mereka jikalau aku memang ditakdirkan untuk menjadi dosen ataupun guru.

Kelas hari ini selesai pukul sembilan malam. Aku bersama lima orang teman asik sekali mengobrol di pojokan dekat piano di Barn Pendle Hill bersama Mas Akhmad Sahal, Mahasiswa Ph.D. dari The University of Pennsyilvania sedang menceritakan pengalamannya bersekolah di USA berserta cara memperoleh beasiswa ke USA. 



Ketika mendengarkan mas Sahal, aku hampir ngences sangking asiknya. Hehehe. Mas Sahal bilang “Hetty, kamu nanti bisa dapat suami bule dan gak pulang ke Indonesia kalau sekolah S2 di sini”. Aku cuma nyengir aja, tapi sebenarnya aku masukin dalam hati dan kuanggap itu sebagai kutipan penting yang harus diresapi dalam-dalam. Hahaha. Mas Sahal bilang, “kalau berusaha kalian pasti bisa kembali lagi ke Amerika untuk studi master.”




“Good night mamak dan Bapak, Love from Pennsyilvania.”


Wednesday, January 16, 2013

Telat Masuk Kelas Malam Karena Tertidur di Kamar

Hari ini aku merasa gak enak badan dan super Jet Lag. Tubuhku hanya mampu bertahan hingga pukul enam sore. Saat jam makan malam, aku bilang kepada teman-teman bahwa aku ingin tidur sebentar di kamar selama sejam dan akan ke dapur Pendle Hill untuk makan malam. Sambil berlari ke kamar aku membayangkan betapa enaknya kalau tidur nanti. Mathelda Titihalawa ikut ke kamarku & dia juga tidur. Niatnya mau tidur sejam, malah kelewatan. Waktu terbangun aku pikir aku telah tertidur sampe pagi, ternyata hanya tiga jam. Aku panik dan berpikir “kok kamarku beda ya, aku di mana?” baru sadar kalau aku lagi di Amerika. Kayanya separuh otakku masih ketinggalan di rumah. Hahaha. Aku langsung ambil jaket dan lari sekenceng-kencengnya menuju dapur Pendle Hill. Udara begitu dingin di luar. Kok aku ke dapur ya! Aku juga bingung mengapa otakku mengajakku lari ke dapur. Di dapur sudah tidak ada makanan dan orang. Aku teringat seharusnya aku ada kelas. Dari dapur aku lari ke Barn. Sambil mengintip ke dalam ruang kelas dan merapihkan rambut. Aku masuk tanpa rasa bersalah seolah-olah baru kembali dari toilet. Hahaha. Ternyata hampir semua mata teman-temanku menahan ngantuk berat, bahkan ada yang tertidur. Aku berbisik pada Mathelda, “Mat, kok gak bangunin aku sih?”. Ternyata Mathelda juga baru saja masuk kelas beberapa menit yang lalu.

Waktu pagi pertama di Pendle Hill semuanya bilang “kok aku gak ngantuk ya?, Iya nih kita gak Jet Lag”. Ternyataaaaaa! Itu hanya berlaku untuk satu hari saja. Akuilah kawan-kawan kalau kita memang mengalami Jat Lag.


Seusai kelas, aku melewati studio art. Kulihat Emily, teman baru kami di Pendle Hill dan seorang anak kecil perempuan bernama Ann keturunan Rusia dan Korea. Mereka sedang asik membuat kartu-kartu yang apik dari sisa-sisa kertas dibantu pembolong kertas bebentuk dedauan dan salju. Aku pikir ini kesempatan yang baik untuk gaul sama bule. Emily memberikanku kartu ucapan farewell yang dia buat dan tulis malam ini juga. What she writes is so cute “Hetty I send you snow to Indonesia”. Cover kartunya sangat cantik dipenuhi oleh snowflake berwarna warni. Setelah ini aku memeluknya dengan hangat karena mungkin saja besok kami tidak bertemu kembali.

Thursday, January 17, 2013
Pindah ke Kota Philadelphia
WELCOME TO CITY

Betapa senangnya hatiku seusai sarapan kami akan menuju Philadelphia. Kubanyangkan diriku berjalan di tengah keramaian kota, bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, dan mendapatkan teman-teman baru. Selagi aku melamun sambil makan, anak kecil perempuan memelukku dari samping. Anne anak kecil yang semalam, mungkin di antara groupku Anne paling dekat denganku. 

Kata koko ini foto Anne dengan pembantunya -,-

Lagi-lagi mungkin karena aku ini seorang tante yang eksotis baginya. Hahaha. Aku peluk Anne sebelum dia berangkat ke sekolah, aku juga berpikir mungkin pagi ini hari terakhir aku bertemu dengannya meskipun aku masih memiliki beberapa minggu lagi di States.


Saat perjalanan menuju Philadelphia dari Pendle Hill, ternyata neighborhood Pendle Hill begitu indah, sangat indah. Rumah-rumah tertata sangat rapih dan memiliki taman yang luas. Seandainya aku bisa punya rumah seperti ini. Seandainya aku bisa membangun rumah untuk ibu dan ayahku. Yah, aku agak sesitif jika berbicara tentang rumah. Rumaku habis terbakar api di hari ulang tahunku di bulan Agustus. Bahkan anjingku pun mati. Rumahku memang sangat sederhana, tidak ada harta yang berharga di dalamnya kecuali cinta dan kenangan masa kecilku. Untunglah Tuhan menyelamatkan kedua orang tuaku dan adik-adikku dari api besar yang bergairah melalap rumahku. Kado ulang tahunku bukanlah kehilangan rumah, tapi Tuhan meyelamatkan keluargaku. Orang-orang di kampungku bilang kota Kalianda menjadi terang benderang di malam ketika api melalap habis rumahku yang semi permanen itu. Aku yakin, ada pelangi yang indah seusai musibah ini terjadi.


Di dalam mobil, aku duduk bersama Melati, teman groupku dari Jakarta. Kami mendengarkan musik. Aku begitu menikmati pemandangan kota Philadelphia. Center City pusat kota Philadelphia sudah tampak dari jauh, bangunan-bangunan tinggi yang berkerumun. 

Kulihat menara yang merupakan bangunan paling tinggi dan ada patung lelaki di atasnya. Itu patung  William Pen, pendiri kota Philadelphia. Kota Philadelphia  didominasi blok-blok apartemen yang berwarna orange dan bermotif tumpukan bata. Aku menyukai pemandangan yang kota ini miliki. Kunikmati pendangan orang-orang Philadelphia membawa anjing perliharaan mereka jalan-jalan. Pemandangan yang tidak biasa di Indonesia. Karena asik menikmati kota ini, sampai tak terasa tiba di Arch Street Meeting House dari Queker. 

Topi dan Penutup kepala Khas Queker dari Inggris

Mungkin nama Queker sudah familiar di Indonesia, “Queker oats”, makanan gandum yang katanya sehat untuk jantung. hehehe Queker adalah sebuah agama atau komunitas yang ada di USA. Prinsip yang kusukai dari paham Queker adalah "people are friend". Pagi ini kami belajar mengenai Konstitusi Amerika di Arch Meeting House (Queker). Teacher kami saat itu adalah Grant Calder. Grant seorang Queker yang berperawakan seperti orang Jerman, berbadan tinggi dan memiliki tulang pipi dengan garis keras seperti orang Batak. Grant berkata bahwa Queker tidak suka menulis tittle mereka di kartu nama dengan alasan semua orang adalah setara. Walaupun memiliki tingkat pendidikan yang berbeda. Seketika itu juga aku jadi  teringat dengan  para intelek atau kaum pengabdi negara Indonesia, mereka bisa marah ketika dalam susunan acara suatu kegiatan sang MC tidak membacakan gelar mereka. Di Indonesia belum tentu seorang yang sudah menempuh pendidikan S3 mau duduk makan bersama seorang tukang ojek, kecuali di dalam tempat ibadah. Aku suka ideologi Queker ini. Jumlah Queker terbesar di US adalah di Philadelphia. Orang-orang British yang awalnya membawa agama ini. 

Siang ini kami makan hot dog. Ukurannya sungguh menakjubkan, sama panjangn dengan lenganku yang kurus. Waktu makan aku kepikiran anak-anak pesisir yang kuajar. Seandainya bisa mereka menikmati hotdog daging sapi selezat ini. Aku bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan padaku.




Dari Arch meeting house kami menuju National Constitution Center. Tempat ini menurutku super cool. Kami melakukan registrasi. Aku mendapatkan plastik yang bergambar Abraham Lincoln. Kisah hidupnya sungguh menginspirasi diriku untuk tetap berjuang mengejar cita-cita. Berkali-kali ia gagal bahkan sampai pernah masuk rumah sakit jiwa. Hingga  akhirnya Lincoln berhasil menjadi salah satu President USA. Kami menuju pertunjukan Teater Constitition Center. Teaternya keren banget.Sayangnya kami tidak diizinkan membawa kamera untuk divideokan teaternya. Ada seorang wanita memakai jas dan seorang pria memakai jas juga bak bekerja di parlemen USA. Mereka menceritakan kisah USA dari awal hingga sekarang secara singkat dan menarik. Lantai studio teater pun menjadi LCD, seluruh dinding studio pun menjadi LCD termasuk langit-langit teaternya juga. Selagi film diputar sang Wanita dan sang Pria melakukan aksi teateritikal nasionalisnya. Untuk warga negara Amerika yang jiwa nasionalisnya meluntur, memang patut untuk melihat teater ini. 
 
Aku terkagum-kagum. Aku suka sekali teater dan pernah menjadi sutradara teater di Lampung. Selanjutnya, setelah ini kami menuju museum konstitusi. Ada beberapa bagian tempat yang tidak boleh berfoto dan ada beberapa bagian yang boleh. Saya dan teman-teman tertarik ke tempat inagurasi presiden USA. Di sini kita bisa merasakan proses inagurasi presiden walaupun hanya icak-icak. Wajahku direkam oleh kamera dan selanjutnya gambarku langsung terpampang di LCD yang memang  sudah ada video proses inagurasi presiden beserta dengan para konco-konconya. Kita hanya tinggal mengikuti text text sumpah presiden Amerika Serikat yang ada di LCD komputer yang tersembunyi sehingga tidak tertangkap oleh kamera video bahwa sebenarnya kita sedang membaca . Di sini dilarang untuk berfoto, tapi Racelle bilang, “ambil saja diam-diam. Kapan lagi.” Lalu kami semua satu-persatu kebagian taking picture saat melakukan "acting" ingurasi sebagai  presiden  USA. Keren lah.



Rafuan, Perwalikan dari Kalimantan

Selanjutnya kami menuju Liberty Bell, yaitu loceng saksi kemerdekaan Amerika Serikat. Dulu Ibu kota negara Amerika adalah Philadelphia. 


Saat temanku Nikita ingin mengambil foto di depan lonceng Lyberty, Nikita meletakan plastik hitamnya di atas lantai dekat lonceng Liberty. Sontak ada suara teriak-teriak polisi wanita yang jelek. Ngomel-ngomel gak jelas pake bahasa Inggris sampe air liurnya menyebabkan hujan lokal. Idiot! Dia menyuruh Nikita untuk mengambil kembali plastinya tersebut. Mungkin dia pikir temanku Nikita ini seorang teroris dan berniat melakukan bom bunuh diri.  Aku merasakan  stereotype yang dimiliki orang Amerika ketika mereka melihat wanita memakai jilbab, mereka mengira para jilbabers tersebut terlibat sindikat teroris. Ini merupakan tugas kita sebagai warga negara Indonesia menunjukan dunia bahwa Indonesia bukanlah negara teroris. Mungkin karena hal tersebut, program beasiswa USA lebih banyak meloloskan kandidat wanita yang berjilbab besar. Bukan untuk dicuci otaknya, tapi alasannya adalah untuk mengenalkan kepada masyarakat Amerika bahawa wanita Indonesia berjilbab itu friendly dan baik, bukan teroris.  Salah satu teman Amerikaku bernama Louis pernah bilang “In here there are lots of Idiots. If someone talking in Arabic, Idiot people think that he is a terorist.” Rasanya pengen kucakar-cakar polisi (atau satpam) wanita Liberty Bell itu, udah tonggos.  Marahnya dia itu terlalu berlebihan di depan rame orang. Kan bisa ngomong pelan-pelan. Sampe bikin kaget dan menjatuhkan repustasiku dan teman-temanku. Lalu kutinggalkan Liberty Bell masih dengan hati yang kesal sambil mencibir si satpam perempuan tadi “semoga gak laku-laku kau, ke hutan tropis aja sana sama monyet-monyet Sumatera”.

Setelah ini kami menuju hotel kami, Conwell Inn di tengah-tengah Temple University. Ini pertama kalinya aku menggunakan subway. Kereta bawah tanah ini biasa saja, mungkin jika dibandingkan dengan kereta bawah tanah di Swiss, jauh lebih baik yang di Swiss. Jadi teringat lagunya James Blunt yang salah satu bagian liriknya“She smiled me on the subway”.

Tiba di Conwell Inn, kamarnya bagus banget. Selama tiga minggu aku akan tidur, sarapan, makan di sini, di Conwel Inn. Kasurnya empuk banget dan kamarnya wangi. Salju sedang turun. Aku memandang ke kaca jendela sambil mendengar lagu Natal.